Wednesday, 14 January 2009
ELECTION
Tuesday, 2 September 2008
The new comissioners
Tanggal 31 Agustus 2008 kemaren, genap satu tahun masa kerja para komisioner baru KOMNAS HAM. Sebenarnya ada rencana untuk melakukan evaluasi atas kerja-kerja yang sudah dilakukan para komisioner dalam satu tahun terakhir tetapi acara tersebut batal karena persoalan teknis tempat yang dianggap terlalu mahal ? anyway, tetap penting untuk melakukan refleksi atas kerja-kerja komisioner baru setidaknya dari dua aspek; aspek pertama adalah kinerja dan kedua adalah hasil kerja; dua aspek ini harus dievaluasi dalam kerangka tugas dan kewenangan KOMNAS HAM sebagaimana diatur dalam UU, serta posisi KOMNAS ditengah pusaran transisi di Indonesia.
Aspek kinerja para komisioner yang baru dapat dilihat dalam kontek sebagai tim work dan juga dari aspek personal. dari aspek personal misalnya adanya komitmen untuk full time di KOMNAS belum sepenuhnya dapat terwujud dikarenakan beberapa kebijakan internal KOMNAS terkait dengan fasilitas; misalnya perumahan maupun kendaraan tidak dapat dipenuhi oleh KOMNAS. Sebagai tim work diawal-awal tahun kerja, tidak terlihat adanya masalah tetapi pada akhir-akhir ini mulai ada gejala bahwa para komisioner mulai disibukkan dengan aktifitasnya masing-masing sementara kesempatan atau waktu untuk melakukan koordinasi relative sedikit.
Aspek hasil kerja tentu bisa diukur dengan data-data kualitative; misalnya berapa jumlah kasus yang disampaikan ke KOMNAS dan mampu direspon oleh KOMNAS secara tepat. Sejauh ini, kasus yang masuk ke unit pengaduan KOMNAS tidaklah sedikit. Jika seluruh pengaduan lewat berbagai cara digabung dalam satu tahun terakhir bisa mencapai angka seribu. Fenomena ini dapat dilihat sebagai tinggi harapan masyarakat atas peran lembaga ini, akan tetapi fenomena ditahun pertama ini adalah normal karena masuknya anggota baru ke KOMNAS HAM, jika fenomena ini tetap bertahan setidaknya sampai tahun ke dua, maka bisa dikatakan bahwa lembaga benar-benar dibutuhkan dan mampu memainkan peran dan fungsinya sesuai dengan kebutuhan riel masa transisi Indonesia. semoga
Wednesday, 23 January 2008
January 2008 and minus 16 C
Tiga hari yang lalu juga salju turun semenjak pagi, ketika pesawat Korean Air yang saya tumpangi mendarat tampak salju dimana, kecuali dilandasan pacu yang sudah dibersihkan. sepanjang perjalanan dari Incheon ke Seoul, melalui subway juga terlihat dikiri kanan semuanya putih, sampai dibukit-bukit sepanjang jalan juga putih oleh salju.
Saturday, 15 December 2007
Minus Zero
Saturday, 8 December 2007
Citizen Movement
Tuesday, 4 December 2007
ENVIRONMENTAL MOVEMENTS IN POST DICTATORSHIP INDONESIA AND SOUTH KOREA
Environmental movement is part of social movement for social change. Social movements may contribute to developing new political and economical structure and new values in the society. Many resources mention that the role and character of environmental movements have variation in several countries. They are dependent upon the particular problems in society that they have.
WALHI and KFEM in the post-dictatorial period have developed closer relationship with the state because the new regimes have become more accommodative than the dictatorship regime. But there are still many difficulties in finding appropriate roles for the environmental movement. Actually, the new regimes have benefited from these relations because their authority was legitimized from the environmental movement. Another factor is the space of freedom that has expended. Historically, the environmental movement usually has a mandate to exercise social control over the government regarding environment issues.

